UPDATE MAKASSAR

LPP Atlantara Bangun Sinergitas Dengan Kejari Makassar Perkuat Falsafah Budaya Bugis Makassar


UPDATEMAKASSAR.COM  – Menjaga marwah pendidikan bukan semata-mata tentang memastikan proses belajar mengajar berjalan di ruang kelas. Lebih dari itu, pendidikan merupakan tanggung jawab peradaban yang menyangkut pembentukan karakter generasi, kehormatan profesi pendidik, serta masa depan sebuah kota.

Semangat itulah yang menjadi landasan gerakan Lembaga Pengawasan dan Pemberdayaan (LPP) Atlantara dalam mengambil peran mengawal dinamika pendidikan di Kota Makassar.

Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kunjungan silaturahmi Ketua Umum LPP Atlantara, Fadel Sofyan, didampingi Direktur Komunikasi dan Informasi Atlantara, Sabar, kepada Kepala Kejaksaan Negeri Makassar, Andi Panca Sakti, di Kantor Kejaksaan Negeri Makassar, Selasa (3/11/2026).

Pertemuan tersebut menjadi momentum membangun komunikasi kelembagaan sekaligus membuka ruang sinergi dalam mengawal berbagai persoalan dan dinamika yang berkembang di lingkungan pendidikan Kota Makassar.

Bagi Atlantara, pendidikan tidak boleh dipersempit hanya sebagai urusan administrasi kelembagaan, pencapaian akademik, ataupun rutinitas penyelenggaraan sekolah. Pendidikan adalah fondasi pembentukan manusia, penjaga nilai kebudayaan, sekaligus instrumen strategis dalam menentukan arah masa depan peradaban.

Karena itu, setiap persoalan yang muncul dalam dunia pendidikan membutuhkan perhatian serius, kepedulian kolektif, serta keberanian seluruh elemen masyarakat untuk mengambil peran sesuai kapasitas dan kewenangannya.

Dalam kesempatan tersebut, Fadel Sofyan menegaskan bahwa Atlantara berkomitmen mengambil peran aktif dalam mengawal dan mendorong penyelesaian berbagai persoalan pendidikan di Kota Makassar. Secara khusus, terdapat tiga persoalan fundamental yang menjadi perhatian utama.

Pertama, penguatan nilai Pangadakkang pada peserta didik.

Pendidikan harus menjadi ruang pembentukan karakter yang berakar pada nilai-nilai budaya, etika, tata krama, dan penghormatan terhadap sesama. Penguatan Pangadakkang menjadi penting agar generasi muda tidak hanya tumbuh dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga memiliki identitas, kepribadian, serta kesadaran moral dalam kehidupan bermasyarakat.

Pendidikan tidak boleh kehilangan akar kebudayaannya. Kemajuan pengetahuan harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai dan jati diri.

Kedua, peningkatan kualitas dan kapasitas guru.

Guru merupakan salah satu pilar utama dalam menentukan kualitas generasi masa depan. Karena itu, peningkatan kompetensi, penguatan kapasitas profesional, perlindungan profesi, serta penghormatan terhadap martabat dan kehormatan guru harus menjadi perhatian bersama.

Tidak mungkin membangun pendidikan yang bermutu apabila para pendidiknya tidak mendapatkan dukungan, perlindungan, dan penghargaan yang layak.

Ketiga, perlindungan kepala sekolah dari intervensi dan intimidasi.

Kepala sekolah harus memiliki ruang yang aman dan independen untuk menjalankan tugas serta tanggung jawabnya secara profesional, objektif, dan berintegritas.

Segala bentuk tekanan, intimidasi, ataupun intervensi yang tidak sesuai dengan ketentuan dan dapat mengganggu independensi kepemimpinan sekolah perlu menjadi perhatian serius.

Sekolah harus menjadi ruang tumbuhnya kepemimpinan yang berani, mandiri, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kepentingan pendidikan, bukan ruang yang dibayangi ketakutan dan tekanan dari pihak mana pun.

Menurut Fadel, ketiga persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja. Diperlukan keterlibatan pemerintah, aparat penegak hukum, tenaga pendidik, masyarakat, serta organisasi yang memiliki kepedulian terhadap masa depan pendidikan.

Pandangan tersebut mendapat respons positif dari Kajari Makassar, Andi Panca Sakti. Ia menegaskan bahwa persoalan pendidikan tidak boleh hanya dipandang sebagai tanggung jawab kepala sekolah. Seluruh elemen masyarakat harus ikut mengambil bagian dalam menjaga dan membangun pendidikan.

“Jangan hanya menganggap ini beban kepala sekolah. Kita harus terlibat. Kami dukung!” tegas Andi Panca Sakti.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan penting bahwa persoalan pendidikan membutuhkan tanggung jawab kolektif. Kepala sekolah, guru, orang tua, pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri.

Bagi Atlantara, dukungan tersebut memperkuat keyakinan bahwa menjaga pendidikan harus menjadi gerakan bersama, bukan sekadar tugas administratif institusi pendidikan.

Selain membahas persoalan fundamental pendidikan, pertemuan tersebut juga menjadi momentum bagi Atlantara untuk memperkenalkan rencana penyelenggaraan Edufest & Family Space 2026, sebuah kegiatan edukasi dan kolaborasi lintas elemen pendidikan yang dijadwalkan berlangsung pada 23–25 November 2026 di Kota Makassar.

Fadel Sofyan menjelaskan bahwa Edufest & Family Space 2026 dirancang bukan sekadar sebagai festival atau kegiatan seremonial, melainkan sebagai ruang perjumpaan, komunikasi, dan interaksi terbuka antara orang tua siswa, guru, peserta didik, serta berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Atlantara ingin menghadirkan suasana yang lebih terbuka dan humanis, tempat setiap pihak dapat bercerita secara lepas, menyampaikan pengalaman, mengutarakan pandangan, serta saling mendengarkan satu sama lain.

Orang tua diberikan ruang untuk menyampaikan harapan dan pengalaman dalam mendampingi anak. Guru mendapatkan kesempatan untuk berbagi cerita mengenai dinamika dan tantangan pendidikan. Sementara peserta didik diberikan ruang untuk menyampaikan suara, pengalaman, dan perspektif mereka sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan.

Pendekatan ini diharapkan dapat membangun jembatan komunikasi yang lebih dekat antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial. Sebab, tidak semua persoalan pendidikan dapat diselesaikan melalui rapat formal, instruksi kelembagaan, ataupun pendekatan administratif. Terkadang, perubahan justru dimulai ketika orang-orang bersedia duduk bersama, bercerita, dan saling mendengarkan.

Salah satu agenda yang menjadi perhatian khusus adalah Malam Apresiasi Guru, sebuah inisiatif yang dihadirkan Atlantara sebagai bentuk penghormatan terhadap dedikasi, pengabdian, dan perjuangan para pendidik.

Malam Apresiasi Guru tidak hanya dimaksudkan sebagai seremoni pemberian penghargaan, tetapi juga sebagai pesan moral bahwa profesi guru harus mendapatkan tempat terhormat dalam kehidupan masyarakat. Di balik keberhasilan seorang anak, terdapat pengabdian para pendidik yang tidak selalu terlihat dan sering kali luput dari perhatian.

Rencana kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Kejaksaan Negeri Makassar, Andi Panca Sakti. Ia mengapresiasi konsep Edufest & Family Space 2026 yang melibatkan banyak elemen dan menghadirkan rangkaian kegiatan yang memberikan ruang interaksi, komunikasi, serta kesempatan bagi orang tua, guru, dan siswa untuk saling bercerita dan mendengarkan.

Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap gagasan Malam Apresiasi Guru sebagai salah satu agenda baru yang memiliki nilai positif dalam membangun penghormatan masyarakat terhadap profesi pendidik.

Sebagai bentuk dukungan terhadap inisiatif tersebut, Andi Panca Sakti menyatakan kesiapan untuk ikut terlibat dan memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Edufest & Family Space 2026.

Dukungan ini menjadi dorongan tersendiri bagi Atlantara untuk menghadirkan kegiatan yang tidak hanya melibatkan banyak pihak, tetapi juga mampu menciptakan ruang perjumpaan yang bermakna bagi ekosistem pendidikan Kota Makassar.

Bagi Atlantara, Edufest & Family Space 2026 merupakan salah satu bentuk konkret penerjemahan filosofi APPA TUJUI. Sebuah gerakan yang tidak berhenti pada gagasan dan wacana, tetapi diwujudkan melalui ruang perjumpaan, kepedulian, pemberdayaan, dan tindakan nyata.

Tidak hanya berbicara mengenai pengawasan dan kegiatan pendidikan, Fadel Sofyan juga memperkenalkan gagasan APPI (APPA TUJUI) sebagai landasan filosofis yang ingin dihidupkan dalam gerakan Atlantara.

APPA TUJUI bukan sekadar rangkaian kata atau identitas gerakan. Di dalamnya terkandung semangat untuk saling berdaya, saling peduli, saling menjaga, dan saling mendukung dalam setiap kebaikan.

Filosofi ini menempatkan kebersamaan, kepedulian, pemberdayaan, dan tanggung jawab sosial sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Dalam konteks pendidikan, APPA TUJUI menjadi ajakan untuk mengembalikan semangat kebersamaan seluruh elemen pendidikan. Guru harus didukung, kepala sekolah harus dijaga martabat dan profesionalitasnya, peserta didik harus dibina karakternya, serta seluruh pemangku kepentingan harus saling menguatkan.

Fadel kemudian menyampaikan sebuah tafsir yang menjadi pesan filosofis gerakan Atlantara tentang keberadaan dua makna Appi di Kota Makassar.

“Appi itu ada dua di Makassar. Pertama, Appi sebagai sosok, yakni Bapak Munafri Arifuddin yang saat ini mengemban amanah sebagai Wali Kota Makassar. Kedua, Appi sebagai falsafah,

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak